Wedding moslem with Shabby Chic

12:48 AM


Assalamualaikum,

Di cuti bersalin  kemarin (latepost ceritanya), saya berkesempatan untuk mengikuti lomba make up. Sebetulnya saya sudah lama ingin mengikuti lomba-lomba make up sebagai sarana mengukur kemampuan diri hanya saja belum ada kesempatan yang menghampiri. Kali ini saya mendapat informasi mengenai adanya lomba make up untuk pengantin muslim yang diselenggarakan oleh produsen hijab terkemuka yang menggandeng brand kosmetik muslim ternama di tanah air.
My Shabby Chic Wedding Moslem

Hal yang pertama saya lakukan tentu mempelajari tema  layaknya ketika membuat materi pidato, presentasi ataupun karya ilmiah (dunia saya di waktu lain). Konsep shabby chic akhirnya saya pahami sebagai konsep yang mengusung suasana vintage, bunga-bunga dan warna pastel. Yang ada di pikiran saya adalah konsep wedding outdoor. Boleh dong kita punya pemikiran yang meluas karena temanya juga luas yaitu wedding moslem with shabby chic. Konsep bunga-bunga segar ada di kepala saya. Kebetulan saya juga mempunyai gaun putih sederhana yang memang saya sewakan buat prewedding. Masalah besarnya adalah model, karena ini lomba pertama saya juga masih meraba-raba. Biasanya untuk kelas MUA expert kalau ikut lomba menggunakan jasa model profesional, mahal dong, hehehehe. Jer basuki mawa bea, hasil bagus tentu harus mengeluarkan uang, akhirnya saya hunting model, yaitu yang biasa jadi model buat kursus rias pengantin. Saya mencari kriteria yang badannya tinggi, mengenai muka memang butuh waktu untuk mendiagnosa karakternya sebelum dirias. Masalah model selesai, kemudian saya mencoba membuat sketsa konsep saya, ini dia konsep wedding dengan tema shabby chic ala saya:


Konsep

Dari konsep banyak sekali printilan yang harus saya lengkapi seperti sepatu model, detail baju pengantin, hijab dan detail bunga. Prinsip saya, saya akan kerjakan bagian yang paling sulit yaitu di bunga. Semalaman sambil gendong bayi saya cari referensi lewat pinterest dan youtube mengenai DIY mahkota bunga, buket dan gelang yang biasa dipakai promnight anak SMA di luar negeri, hehehehe.

H-seminggu

Saya hunting bahan detail bunga diantaranya kawat kerajinan dan selotip hijau lengket yang biasa dibuat untuk merangkai bunga. Diantar suami tercintah dan anak-anak, kami pergi ke Beteng Trade Center untuk membeli perlengkapan lainnya. Sesampainya di Beteng yang parkirnya penuh, si bayi saya titipkan bapaknya dan saya langsung ngacir untuk belanja (ini persis adegan reality show uang kaget deh hehehehe). Beteng ini mirip sekali dengan ITC atau Tanah Abang kalau di Jakarta, banyak pelapak yang dagangannya membuat lapar mata. Yang pertama saya beli adalah sepatu, karena gaun saya putih dan konsep hijab saya bernuansa perak, saya putuskan membeli sepatu berwarna perak dengan heels yang tidak terlalu tinggi yaitu 5 cm (takut modelnya capek). Kemudian saya membeli manset putih untuk menutup leher karena gaun saya berkerah sabrina. Tak lupa saya membeli tile putih di bagian kain yang akan saya gunakan sebagai veil panjang untu hijabnya nanti. Tepat 30 menit saya belanja, fiuuuh.

Belanja di Beteng Trade Center, Solo
H- 2

Saya panggil modelnya ke rumah untuk tes make up. Model saya ini namanya Dea, anak UNS, badannya tinggi. Yang paling menantang adalah matanya karena sipit dan panjang. Sebelumnya saya coba menumpuk dua bulu mata supaya matanya kelihatan wow. Warna fuschia dan tosca saya angkat mewakili shabby chic. Pas make up mata, ternyata karena sipit warna yang sudah saya aplikasikan tidak kelihatan ketika Dea mmbuka mata, kemudian bulu mata tumpuk yg saya pasang terlalu panjang di mata Dea, efeknya mmbuat matanya terlalu dekat dengan alis, duh saya galau. Waktu sisa akhirnya saya gunakan untuk mencari refeensi make up mata sipit. Saya tidak bisa memakai scotch karena yang bakal dinilai pasti teknik aplikasi eyeshadow, harus smooth. Berbekal buku Fitri Liza For Your Eyes Only saya akan mencoba gaya royal affair untuk Dea, tidak ada waktu lagi untuk tes make up saya harus apliakasi trik Fitri liza di tempat lomba.

Tes Make Up (Dea dalam keseharian tidak berjilbab)

H-1 malam hari

Saya ke pasar kembang, saat itu hujan lebat. Saya menentukan bunga apa saja yang akan saya beli, bingung karena bunganya cantik -cantik. Akhirnya saya memilih bunga mawar dengan warna fuschia dan dusty pink yang harganya 5K/ tangkai, peacock ungu dan putih 10K/buket, sedap malam 6K/tangkai, gladiol 6K/tangkai dan mata kebo 25K/buket. Tadinya saya mencari baby breath tapi kata yang jual baby breath lagi mahal-mahalnya sehingga mereka tidak berani stok. Kemudian untuk melengkapi nuansa hijau saya mampir ke tempat ibu mertua untuk mengambil daun cincau pohon dan salam (iya daun salam yang buat masak, hehehehe). Malamnya saya begadang bikin roncean mahkota, gelang dan buket, jangan tanya si bayik ya, adek sudah tidur tentu saja setelah drama menangis saya ninabobokkan. Buket bunga sengaja masih saya taruh ember supaya esok pagi tetap segar.

Belanja Bunga di Pasar Kembang, Solo
Buket bunga
H-5 jam

Dea datang, saya masih belum menyelesaikan roncean mahkota saya karena malamnya keburu ngantuk. Sejam saya gunakan untuk meronce dan menyiapkan perlengkapan, so Dea ngapain? maem selat solo lah, hehehe.  Dea anak Madiun baru dua kali ini makaan selat katanya. Setelah saya siapkan perlengkapan, saya mulai pasangkan gaun ke Dea, pas fitting dan tes make up  gaunnya ternyata kependekan alias cingkrang di Dea, mau sewa ogah banget karena lomba pertama, saya ingin maksimalkan apa yang ada dulu. Tangan Dea saya tutup gelang, sedangkan kaki tidak begitu kelihatan kalau Dea pakai sepatunya. Kemudian saya pasangkan hijab dan veilnya. Sekalian saya pasangkan tisu menutup hijab supaya tidak kotor ketika dimake up nanti. Akhirnya jadi juga.

Siap -siap

Jam 1 siang kami tiba di Solo square dan langsung regstrasi ulang. Saya langsung kaget dong lihat peserta lain, banyak yang pake ballgown, ada pula yang pake tibododo sama kembang goyang (dalam hati saya, ini temanya apaaaaaah). Saya iseng ya ambil tempat duduk paling jauh dari juri karena posisi juga tidak ditentukan oleh panitia. Akhirnya juri datang (setelah menunggu sejam, hellow) dan lomba dimulai. Posisi saya yang paling jauh dari juri ternyata paling dekat dengan pengunjung mall, badala banget ini sih, bikin grogi sampai tangan saya gemetar pegang kuas, untung Dea ngajak saya ngobrol, hehehe. Pelan-pelan sekali saya coba membuat detail dari mencampur foundie dan mencoba tenik fitri liza di mata Dea yang sipit dan panjang. Bulu mata tidak saya tumpuk dan saya gunakan bulu mata yang digunakan pada pakem TRP Solo putri, iya bulu mata silang 3. Saya juga merasa kesulitan membuat alis Dea yang cenderung besar, toh inilah tantangannya. Saya sangat menikmati waktu memake up Dea, terlepas dari para penonton yang mondar mandir dan mengamati kami. 1, 5 jam akhirnya selesai, alhamdulillah. Menang atau kalah sudah biasa dalam lomba, yang terpenting saya bisa menaklukkan kepanikan saya.

Tibalah saat penjurian, saya sih sudah yakin tidak bakal menang karena saingannya MUA pro yang jam terbangnya jauh lebih banyak, at least saya puas. 

Penjurian

Walaupun saya puas dengan kerjaan saya sendiri saya merasa sedikit kecewa dengan penjurian, mengapa?

1. Juri mengatakan kalau Beliau suka sekali dengan tipe make up yang sangat barbie look dan sesuai karakter juri. Hellow ini temanya barbie look atau shabby chic, mungkin mas juri nya harus lihat begron panggung yang berbonga-bonga, hehehehe. Juri belum bisa melepas kesubjektifannya.
2. Juri yang satunya menyampaikan kalau wedding yang dia nilai lebih ke yang pakai tiara-tiara (dari semua peserta cuma saya yang pake mahkota bunga). Mungkin mbak juri kurang piknik karena konsep wedding bisa indoor atau outdoor dan itu tidak disebutkan dalam tema. So, it's tema ya, luas. Toh kalau beliau tidak sreg dengan make up atau apapun dengan peserta tidak perlu menyampaikan yang di luar topic (tiara-tiara itu tadi).

Apapun hasilnya (karena keputusan juri tidak dapat diganggu gugat) saya sangat menikmati kegokilan lomba kemarin. Make up adalah seni, berbeda sekali dengan dunia saya yang satunya penuh kepastian, eeeaaaa. Dalam seni tidak bisa ditentukan ini pasti indah cantik, semua ada tolok ukur penikmat yang disebut selera. Pun tangan satu MUA pasti berbeda dan itulah signaturenya. Inilah karya saya. Selanjutnya ya jelas harus terus belajar.
Close Up  wajah dari samping
Model saya lagi senyum
Foto sama MUAh MUAhnya

Salam cantik


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

GENAYU

GENAYU
You are beautiful. Enhance Yours