PETANI BUKALAPAK #BUKAINSPIRASI MENUJU KEDAULATAN PANGAN

12:26 AM


"Nasi putih terhidang di meja kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi dari manakah datangnya
Dari sawah dan ladang disana, petanilah penanamnya
Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih Bapak tani, terima kasih Ibu tani
Tugas anda sungguh mulia."


Sambil tersenyum kecil saya mengingat masa sekolah. Dulu lagu tersebut sering diputar di TVRI, lagu tersebut banyak bercerita tentang perjuangan hidup petani, sebuah profesi mulia yang banyak ditekuni oleh masyarakat kita sehingga Indonesia dikenal sebagai negara agraris.

Indonesia Negara Agraris dan kebutuhan impor

Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan saat ini sektor pertanian masih menyerap sekitar 40% dari total tenaga kerja di Indonesia. 40 juta orang yang bekerja di sektor pertanian jika dikalikan empat per keluarga ada 160 juta orang yang masih  berharap dari sektor pertanian. Dari pernyataannya tersebut  Indonesia masih relevan disebut negara agraris. Walaupun Indonesia adalah negara agraris tidak semua kebutuhan produk pertanian dapat dicukupi sendiri, iklim adalah salah satu faktor kendalanya. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa terdapat 28 komoditas pangan yang biasa dikonsumsi sehari-hari yang masih dimpor dari negara lain antara lain jagung, kedelai, bawang putih, bawang merah hingga lada.

Lahan pertanian yang terus berkurang

Fungsi lahan pertanian sebagai lahan penghasil produk pertanian seperti padi, palawija dan hortikultura banyak mengalami penurunan di tengah maraknya bisnis properti yang menggiurkan. Adimihardja dari Balai Penelitian Tanah dalam studinya menyebutkan bahwa lahan pertanian sebagai penghasil produk pertanian memiliki nilai ekonomi lebih rendah dibanding nilai kegunaannya di sektor lain misalnya industri, pertambangan, perdagangan dan pemukiman.  Faktor sosial ekonomomi masyarakat pedesaan juga menjadi salah satu penyebab konversi lahan pertanian diterima sebagai hal yang wajar.

Lahan pertanian yang mulai berubah fungsi

Petani Masa Depan

Sumber daya manusia, petani dalam hal ini adalah faktor penentu keberhasilan di bidang pertanian. Petani bekerja keras untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik terutama untuk generasi mereka selanjutnya. Dengan pendidikan yang lebih baik masihkan anak-anak petani tersebut meneruskan bertani? Beberapa mahasiswa yang mengambil jurusan pertanian nyatanya tidak bekerja sesuai bidangnya beberapa malah masuk dunia perbankan ataupun bisnis lainnya. Lalu siapakah petani di masa depan? Bagaimana kita akan mencukupi kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan utama jika petani dan lahannya semakin berkurang.

Salah satu strategi mempertahankan lahan pertanian adalah melalui peningkatan citra pertanian dan masyarakat tani (Adimihardja). Kali ini saya  berhasil mewawancari sosok inspiratif di bidang pertanian.

Pak Poniran, petani di Kabupaten Sleman

Beliau adalah sosok praktisi yang tidak pelit ilmu, namanya Pak Poniran, lahir di Sleman pada 12 Agustus 1976 dengan pendidikan terakhir sarjana muda budidaya pertanian. Sosoknya tidak terlepas dari buah melon yang kemudian mengantarkan Beliau menjadi juara III Pemuda Pelopor Tingkat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2010. Jangan mengira kalau sosok ini adalah petani yang kurang gaul, nyatanya Pak Poniran ini adalah anggota TAGANA (Taruna Siaga Bencana) Kabupaten Sleman sekaligus ketua Karang Taruna Kecamatan Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Pak Poniran sudah 20 (dua puluh) tahun menggeluti profesi petani. Untuk menjadi sesukses sekarang Pak Poniran fokus pada tanaman hortikultura berupa melon, pepaya, mentimun, tomat, cabai dan kacang panjang. Adapun luas lahan pertanian yang dikerjakan adalah seluas 14.000 m2 dan melibatkan kurang lebih  lima tenaga dalam kesehariannya. 

Berikut adalah hasil wawancara saya dengan Beliau.

Apa saja suka duka menjadi petani selama ini?
Banyak Mbak suka dan dukanya, tetapi rasanya ya seperti umumnya, kalau komoditas di pasaran jumlahnya sedang banyak ya harganya akan murah, di situ dukanya, sukanya ya sebaliknya.

Siapa saja konsumen hasil pertanian Bapak?
Bermacam-macam Mbak, tergantung komoditas.
Contohnya melon, jika panen kondisi bagus yaitu kondisi buah minimal beratnya 1,5 kg/pcs dengan tingkat kemanisan tertentu maka dapat dijual/dimasukkan ke gudang merek tertentu untuk disalurkan ke berbagai supermarket. Jika buah memiliki kemanisan di bawah standar supermarket,  masih bisa dijual  biasanya akan masuk ke pasar buah. Nah, kalau untuk mentimun khususnya timun baby (timun lalap) dengan spesifikasi berat 1 kg (isi 12 buah) sudah punya pangsa pasar tersendiri. Biasanya dalam jumlah tertentu akan diminati oleh rumah makan sekitar, bila panen dalam jumlah besar terdapat pengepul tertentu yang akan mengambil.

Apakah hasil pertaniannya sudah pernah tembus pasar internasional?
Sudah pernah ekspor ke Singapura, pastinya harus ada MoU dulu dengan pihak pemasar. Kondisi tanaman harus sesuai standar mereka dan produk kita bisa kontinyu per bulan (misal 20 ton per bulan).

Apakah Bapak mempunyai semacam program yang melibatkan masyarakat dalam kemajuan pertanian?
Kami melakukan pelatihan swadaya tentang budidaya melon yang difasilitasi Dinas Pertanian dan Pusat Inkubator Agribisnis di bawah BPSDM Kementerian Pertanian. Kegiatan tersebut melibatkan petani dalam perluasan teknologi budidaya tanaman melon.

Apakah Bapak pernah bekerja sama dengan GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani)?
Kami membina beberapa GAPOKTAN di kabupaten Sleman dan Magelang. Produksi dari petani-petani di GAPOKTAN tersebut dijadikan dasar kontinuitas produksi sehingga target per bulan sebesar 20 ton  dapat terealisasi.

Apakah Bapak menggunakan teknologi khusus dalam bertani?
Kami menggunakan mekanisasi pertanian yang didukung dengan pemakaian beberapa jenis bahan organik maupun kimia untuk pertanian.

Bagaimana Bapak memperoleh benih sehingga didapatkan hasil pertanian yang berkualitas?
Kami membeli benih dari toko pertanian tetapi terdapat beberapa benih yang susah dicari dan kami menemukannya lewat online. Contoh yang paling sering kami beli adalah benih timun vanesa, benih melon tertentu, benih cabai keriting dan cabai rawit.

Biasanya membeli benih online di mana?
BUKALAPAK

Apa manfaat yang Bapak rasakan dengan adanya penjualan benih secara online?
Yang pasti sangat membantu dalam hal ketersediaan benih, biasanya harganya juga jauh lebih murah (grosir) untuk toko-toko tertentu.  Benih yang biasanya kami beli online juga sangat berkualitas sehingga target kami terwujud.

Apakah bisa diceritakan pengalaman menggunakan benih yang dibeli secara online?
Kami tahu benih berkualitas atau tidak itu dari mereknya, pastinya karena sudah terbiasa pakai. Benih bermerek tersebut terkadang stoknya sedikit di toko pertanian dan biasanya malah ada di pasar online. Penggunaan benih apa adanya dari toko pertanian tanpa memperhatikan merek dan kualitas hasilnya tidak maksimal bahkan terkadang jauh dari harapan. Misal seharusnya digunakan kacang panjang merek X tetapi tidak ada dan akhirnya digunakan merek Y (seadanya), jika merk X dapat menghasilkan 1 ton merk Y akan menghasilkan 50 kg. Berdasarkan pengalaman tersebut maka pemilihan benih unggul merupakan salah satu kunci pokok peningkatan produksi hasil pertanian. Pokoknya ketersediaan benih secara online sangat membantu kami.

Pembelian benih melalui BUKALAPAK

Saya pun mengakhiri sesi tanya jawab dengan Pak Poniran dengan segenap rasa kagum, ternyata masih ada pemuda yang antusias mengembangkan pertanian bahkan Beliau sempat bercerita akan mengembangkan sayap ke usaha peternakan juga. Sudah seharusnya kita mempunyai petani masa depan seperti Beliau sehingga kita memiliki kedaulatan pangan. Kesimpulan saya dari wawancara dengan Pak Poniran adalah pentingnya strategi pemasaran yang cocok untuk suatu komoditas. Sekarang jaman sudah berubah, pasar online kian terbuka.  Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Aulia E. Marinto menyatakan  keinginan masyarakat Indonesia saat ini dalam berbelanja secara online semakin besar.  Saat ini pengguna e-commerce tidak sekadar mencari diskon tetapi juga mencari kenyamanan.

#BukaInspirasi untuk Kedaulatan Pangan


Bulan Agustus sudah kita lewati, bulan yang kita kenang sebagai bulan perjuangan. 73 tahun Indonesia merdeka tetapi nyatanya kita belum merdeka sepenuhnya. Kita belum berdaulat atas pangan di negeri sendiri. Sungguh membahagiakan ketika BUKALAPAK banyak memberi promo di harimerdeka kemarin, petani seperti Pak Poniran juga sudah merasakan manfaat dari  BUKALAPAK, sebagai sebuah marketplace besar BUKALAPAK juga seharusnya dapat melirik potensi dari para petani tersebut. Sebagai sebuah marketplace yang memasarkan beragam produk alangkah baiknya jika visi dan misi BUKALAPAK juga berarah ke kedaulatan pangan. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi yaitu dengan merangkul petani dengan menjadikannya PETANI BUKALAPAK. Berikut adalah penggambaran simbiosis antara petani dan BUKALAPAK yang dapat terjadi.

1.     Pemasaran hasil pertanian dengan merk PETANI BUKALAPAK

  • BUKALAPAK merangkul GAPOKTAN unggul dari setiap provinsi di Indonesia (mengingat GAPOKTAN unggul pasti sudah mempunyai sistem pendampingan yang kokoh sehingga mutu produk terjamin).
  • BUKALAPAK mencarikan pasar modern (supermarket atau minimarket) untuk produk petani.
  • GAPOKTAN melakukan grading untuk produk unggulan mereka dan setiap produk diberi label PETANI BUKALAPAK.
  • BUKALAPAK mengambil produk petani dan menyetorkan  kepada pasar modern.
Skema Pemasaran produk PETANI BUKALAPAK

2.     Menyediakan navigation bar PETANI BUKALAPAK


  • BUKALAPAK merangkul GAPOKTAN kemudian mendaftar komoditas unggulannya. BUKALAPAK membuat nav bar untuk produk pertanian unggul dari setiap provinsi di Indonesia (komoditas setiap provinsi dapat dimungkinkan sama, misal jeruk tetapi jenis dapat berbeda antara Pontianak dan Malang).

  • Pembelian produk diarahkan untuk pembelian partai besar (misalnya beras atau produk hortikultura untuk perdagangan intern/antar daerah). BUKALAPAK menyediakan ekspedisi khusus PETANI BUKALAPAK (memungkinkan untuk pengiriman produk pertanian antar daerah) untuk menjamin kepuasan konsumen.



 
Skema Penjualan Online produk PETANI BUKALAPAK 
Nah, kita sendiri juga dapat membantu program kedaulatan pangan cepat tercapai, berikut adalah tips kedaulatan pangan yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

1.       Menggalakkan budaya menanam
Budaya menanam perlu digalakkan kembali, tidak terbatas dengan lahan karena saat ini mulai marak sistem bertani dengan berbagai macam media misalnya hidroponik. Kita dapat menanam tanaman yang sederhana misalnya bumbu dapur antara lain cabai, tomat hingga tanaman buah dalam pot. Tidak perlu pusing mencari benih atau bibitnya karena sekarang semuanya mudah didapat secara online, seperti cerita Pak Poniran kita bisa mendapatkanya di BUKALAPAK.

Menanam di kebun sendiri

2.       Selalu bangga mengonsumsi pangan dalam negeri
Pepaya, mangga, manggis, jambu, salak dan nangka adalah beberapa buah lokal yang rasanya tidak kalah dibandingkan buah impor. Ketersediaan buah lokal juga banyak di pasar-pasar tradisional. Dengan mengonsumsi pangan lokal kita akan membantu petani kita untuk bangkit dan lebih sejahtera. Jika BUKALAPAK dapat mengakomodir konsep PETANI BUKALAPAK maka konsumen di tanah air akan semakin dipermudah untuk mendapatkan produk pertanian lokal yang berkualitas.

Konsumsi buah lokal

Inspirasi tidak selalu datang dari orang lain terkadang #BukaInspirasi adalah tentang bagaimana kita dengan sekecil-kecilnya usaha dapat bermanfaat bagi orang lain. Seperti menjawab soal ujian,  kerjakan dulu yang Anda anggap mudah, daripada mempunyai selusin langkah tetapi tidak terjamah.


Sumber :
Jurnal:

Artikel :

Gambar:





You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

GENAYU

GENAYU
You are beautiful. Enhance Yours